Skip to content

METODOLOGI STRUKTURAL DALAM ILMU SEJARAH

November 23, 2013

Berkembangnya ilmu-ilmu sosial abad kedua puluh mendorong penulisan sejarah yang lebih komprehensif. Pendekatan ilmu-ilmu sosial mulai dipertimbangkan dalam eksplanasi sejarah. Pendekatan ini muncul akibat ketidakpuasan terhadap penulisan sejarah konvensional yang bernuansa politik. Fernand Braudel, seorang sejarawan Perancis memperkenalkan perspektif baru dalam penulisan sejarah. Braudel menggunakan pendekatan struktur dalam mengkaji sejarah Laut Mediterania dan dunia sekitarnya pada masa Phillip II.

Struktur memainkan peran yang determinan terhadap kenyataan sejarah. Maksudnya kenyataan sejarah dipengaruhi oleh struktur geografi, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Determinasi  struktur dijelaskannya dalam trikotomi dimensi temporal, yakni:

  1. Jangka panjang=  geografi= struktur
  2. Jangka tengah=   ekonomi= konjungtur
  3. Jangka pendek=   politik= peristiwa

Faktor geografi menjadi wadah bagi kenyataan sejarah. Bentang alam mempengaruhi aktivitas manusia dari sisi ekonomi dan membentuk entitas masyarakat yang memiliki karakteristik tersendiri. Sementara itu, faktor ekonomi maupun faktor lainnya tidak dapat mempengaruhi faktor geografi. Peristiwa-peristiwa tidaklah begitu penting karena hakikatnya perilaku individu mengikuti aturan yang berkembang di masyarakat.

Sejarah struktural menekankan jangka waktu yang lama (longue duree). Masyarakat hidup dalam rutinitas dan keajegan. Masyarakat berubah secara lambat dalam kurun waktu yang lama atau pada tingkat yang evolusionis.

Menurut Sartono Kartodirdjo, sejarah struktural merupakan sejarah yang analitis. Pendapat tersebut dilandaskan pada kepekaan terhadap berbagai permasalahan yang muncul.

Konstruksi sejarah struktural menggunakan instrumen konsep-konsep dalam ilmu-ilmu sosial. Dengan jalan ini beragam permasalahan diharapkan akan muncul dan  dipecahkan dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial. Maka dari itu pendekatannya dapat dikatakan multidimensi.

Penulisan sejarah model Braudel menginspirasi sejumlah sejarawan untuk penulisan sejarah menggunakan metodologi struktural. Sebut saja  Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Negeri di Bawah Angin karya Anthony Reid, Trade and Civilisation in Indian Ocean: An Economic History from the Rise of Islam to 1750 karya K. N. Chauduri, dan Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Laut Sulawesi Abad XIX karya Adrian B. Lapian.

Dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Negeri di Bawah Angin, Anthony Reid menggunakan metode pendekatan sejarah total atau total history dalam menulis sejarah Asia Tenggara. Yang menjadi perhatian Reid adalah aspek geografi, demografi, pakaian, pesta rakyat dan kerajaan, perumahan, kebudayaan material, makanan, seks, kedudukan gender dan lainnya. Dalam karyanya ini, aspek politik diabaikan dan yang ditonjolkan adalah unsur-unsur masa lampau yang membentuk peradaban masa kini.

Sementara itu dalam Trade and Civilisation in Indian Ocean: An Economic History from the Rise of Islam to 1750, Chauduri membahas tentang perdagangan jarak jauh dan struktur masyarakat kawasan Samudera Hindia. Karakteristik laut kawasan Samudera Hindia dapat dibedakan menjadi tiga yakni Kawasan Laut Arab, Teluk Bengala, dan Perairan Asia Tenggara Bentang alam tersebut membentuk masyarakat kebudayaan maritim yang berbeda pula. Kebudayaan ini mencakup kecakapan ini mencakup penguasaan laut, pengorganisasian perkapalan, dan pembuatan kapal.

Perjalanan menggunakan kapal memanfaatkan iklim dan musim. Faktor tersebut memunculkan emporia perdagangan sebagai tempat persinggahan maupun area perdagangan. Daerah sekitar emporia menjadi kawasan penyangga untuk pangan maupun kebutuhan logistik perjalanan di laut.

Sedangkan dalam Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Laut Sulawesi Abad XIX, Adrian B. Lapian membahas struktur geografi maupun sosial masyarakat kawasan Laut Sulawesi. Kawasan Laut Sulawesi merupakan suatu kesatuan. Bentang alam, iklim, dan perubahan alam membentuk masyarakat dengan kebudayaan maritim. Adrian Lapian menggolongkannya kedalam tiga kelompok yakni Orang Laut (masyarakat yang hidup berkelompok membentuk perkampungan perahu), Bajak Laut (kelompok pelaut yang melakukan kekerasan untuk suatu kepentingan), dan Raja Laut (kekuatan maritim kerajaan-kerajaan). Ketiga unsur masyarakat tersebut dikaji secara etnisitas, teknologi, dan peranan sosialnya. Dalam kerangka ini, ketiganya akan terlihat sebagai masyarakat yang otonom. Walaupun demikian, ketiganya memiliki hubungan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Raja laut memerlukan orang laut sebagai kekuatan maritimnya, sedangkan orang laut memperoleh perlindungan. Ada kalanya orang laut meminta bantuan bajak laut untuk memperoleh keamanan. Raja Laut memerlukan budak yang diperoleh dari bajak laut, sementara bajak laut akan memperoleh prestis apabila mendapat dukungan raja laut. Selain itu, masyarakat mengalami perubahan pada tingkat yang evolusionis.

From → Experience

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: