Skip to content

IDENTITAS MARITIM, PERDAGANGAN, DAN PERKEMBANGAN BUDAYA DI ASIA TENGGARA

Oktober 15, 2010

Oleh : Subekty Wibowo

K4410057

Perkembangan masyarakat di Asia tenggara tidak lepas dari orang Austronesia. Austronesia adalah istilah yang dipakai oleh para ahli linguistik untuk keluarga bahasa yang berkembang di Taiwan antara lima hingga tujuh ribu tahun silam. Mereka berpindah dari Cina dan mengarungi selat Formosa. Saat itu mereka telah menguasai teknik perladangan berpindah dan pembuatan kapal.

Semenjak awal milenium pertama, orang Austronesia telah berlayar hingga Madagaskar secara mandiri. Perkembangan navigasi astronomi dan difusi pengetahuan tentang ritme angin musim turut mendorong partisipasi pelayaran jarak jauh ini. Pelayaran menakjubkan ini membuat kelompok bahasa ini terpencar luas, dan bisa dikatakan mereka adalah orang bahari yang senantiasa berpindah-pindah.

Pada awal milenium pertama terjadi peralihan jalur perdagangan dunia, dari jalur sutera(darat) ke jalur laut. Orang Austronesia ikut andil dalam  membawa kepulauan Asia Tenggara ke dalam sistem perdagangan global pada saat itu. Mereka menguasai rute-rute perdagangan Asia Timur-Eurasia.

Kawasan Asia Tenggara menjadi wilayah yang strategis karena berada di tengah rute perdagangan global dan menjadi kawasan persinggahan para pedagang dari penjuru negeri. Akibatnya muncul pelabuhan-pelabuhan dan pusat-pusat perdagangan seperti kawasan pesisir Malaka dan Vietnam. Para pedagang yang singgah bukan hanya untuk berdagang saja, melainkan berhenti dalam alur perjalanan untuk menunggu anguin musim yang tepat. Selain itu, aktivitas perpindahan kargo juga banyak dilakukan di kawasan Asia Tenggara. Ini merupakan hal yang lazim dilakukan karena jarak yang terlalu jauh dari Timur Tengah maupun kawasan barat yang lain untuk menuju Cina. Secara alami kegiatan ini menuntun pada pola perdagangan yang berbeda antara dunia barat dan dunia timur(Munos 2009: 90).

Aktivitas perdagangan yang intensif ini menimbulkan kontak sosial, komunikasi,dan interaksi dengan berbagai elemen masyarakat, baik sesama pedagang maupun masyarakat lokal. Interaksi ini memungkinkan terbangunnya suatu kebudayaan yang menerabas tapal batas geografis, religi, dan etnis. Dengan demikian timbul paradigma bahwa laut sebagai prinsip pemersatu sejarah Asia Tenggara (Reid 2004:54).

Masyarakat pesisir dapat dikatakan sebagai masyarakat yang plural karena kental akan keanekaragaman budaya. Budaya tersebut tumbuh dan berkembang secara difusi, asimilasi, maupun akulturasi. Bahasa, kepercayaan, peralatan, adat-istiadat, dan ilmu pengetahuan merupakan contoh produk budaya yang berkembang di tengah-tengah keanekaragaman tersebut.

Analisis Penulis

Penulis menganggap ada korelasi antara identitas maritim orang Austronesia, perdagangan, dan perkembangan kebudayaan di Asia Tenggara. Hal ini dapat dilihat dari substansi hubungan di antara ketiganya.

Orang Austronesia terkenal dengan pelayaran dan penyebarannya. Kondisi ini logis terjadi karena wilayah Asia Tenggara terhubung oleh lautan dan terbagi menjadi beberapa kawasan darat, sehingga teknik pelayaran banyak digunakan. Apakah pelayaran tersebut hanya penjelajahan semata atau ada motif lain dibaliknya?

Berdasarkan studi literatur, penulis mendapati bahwa aktivitas maritim yang dilakukan di kawasan Asia Tenggara didominasi oleh kegiatan ekonomi, yakni perdagangan. Perdagangan menjadi penting tatkala kebutuhan yang meningkat tidak diimbangi kemampuan produksi yang mandiri, dengan kata lain suatu masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu mereka melakukan kontak sosial dengan bangsa lain guna mencukupi kebutuhannya.

Pada saat itu terdapat jalur perdagangan dunia yang menghubungkan dunia barat dan timur. Kawasan Asia Tenggara berada di tengah jalur tersebut dan menjadi tempat yang strategis, kemudian muncul pelabuhan-pelabuhan dan pusat-pusat perdagangan.

Aktivitas perdagangan tersebut menimbulkan kontak sosial, interaksi, dan komunikasi antara penduduk lokal dengan para pedagang dari penjuru negeri yang  memungkinkan terjadinya transfer kebudayaan.Hal inilah yang terjadi pada kawasan Asia Tenggara sehingga kawasan ini kaya akan keanekaragaman budaya.

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kehidupan maritim dan perdagangan meruapkan proses sejarah menuju perkembangan budaya di Asia Tenggara. Kedua aspek tersebut sangat urgen pada masa itu. Perdagangan menimbulkan kontak sosial, komunikasi, dan interaksi yang merupakan cikal bakal dari suatu transfer budaya.

B. SARAN

Penulis menyadari bahwa  penulisan materi ini masih belum bisa dikatakan sempurna karena masih terdapat kekurangan-kekurangan. Berikut ini saran untuk penulisan review yang sama di masa mendatang ;

  1. Perbanyaklah sumber-sumber yang mendukung penulisan materi.
  2. Kajilah lebih detail tema yang akan dibahas.
  3. Korelasikan beberapa sumber pendukung.
  4. Jangan lupa mencantumkan sumber referensi.

Demikian yang dapat penulis sampaikan. Semoga saran tersebut berguna untuk penulisan-penulisan di masa mendatang.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hall, D.G.E. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha Nasional

Munoz, Paul Michel. 2009. Kerajaan-Kerajaan Awal kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi

Reid, Anthony. 2004. Sejarah Modern Awal Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES

Vickers, Adrian. 2009. Peradaban Pesisir Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara. Bali:Pustaka Larasan

Orient, Ecole Française d’Extreme. 1981. Kerajaan Champa. Jakarta: Balai Pustaka

From → Experience

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: